Ini Cerita-ku Mengenai Keberagaman || Menepis Prasangka Mengedepankan Kolaborasi Dalam Merawat Toleransi
Writer : Jamaludin
SADAP INDONESIA atau yang biasa dikenal dengan Satu Dalam Perbedaan merupakan komunitas toleransi yang diriku ikuti sejak mengikuti salah satu programnya yaitu TEPELIMA Kalbar Batch 3. Sejak mulai keikutsertaan diriku dalam program Temu Pemuda Lintas Agama (TEPELIMA) tahun 2020 ini, banyak sekali ilmu yang di dapati dari berbagai sudut perspektif teman-teman yang berbeda keyakinan antara diriku dengan yang lainnya. At least dari kegiatan ini banyak merubah total stereotif ku dari segi keberagaman dalam beragama. Mulai sejak itulah, diriku ingin turut andil bagian dalam memperjuangan toleransi terkhususnya dari isu- isu marginal dan persekusi yang dilakukan oleh media mainstream untuk menyudutkan kelompok minoritas. SADAP sebagai komunitas NGO yang berdiri di Kota Pontianak, Kalbar ini memberikan kesempatan dan ruang untuk diriku ambil bagian sebagai penggiat isu intoleran untuk keberagaman terkhususnya mengenai problematika dan diskriminasi yang terjadi di daerah kami.
Layaknya orang normal pada umumnya, mereka akan dinilai sebagai orang yang terlahir waras sebagai manusia. Namun berbanding terbalik pada saat ini, dimana ketimpangan yang terjadi pada diri seseorang yang memiliki kelainan diluar biasanya mereka akan tertindas, dijauhi, bahkan dirusak hak-haknya sebagai seorang manusia. Berbagai ketimpangan dan diskriminasi yang terus terjadi di negara kita, membuat kelompok minoritas ini terbatas untuk mereka bersuara dan bereksperesi di publik. Dari data yang saya dapatkan salah satunya melalui World Repost 2022 : Indonesia Human Right Watch bahwa banyak sekali ketimpangan yang terjadi pada kelompok marginal sepanjang tahun 2021 hingga 2022. Mulai dari kebebasan beragama berupa penghentian pembangunan masjid muhammadiyah di Banyuwangi oleh NU, Perusakan tembat ibadah jemaah Ahmadiyah di Sintang, Perizinan IMB Gereja di Kaltim yang tidak kunjung diberikan pemerintah, agama baha’i serta berbagai hal lainnya. Di sisi lain pula, tak luput kelompok rentan minoritas yang diperlakukan tidak wajar akibat dari Orientasi Seksual dan Identitas Gender tidak jelas hingga ketidakadilan yang terjadi pada Hak Perempuan.
Cerita mengenai isu keberagaman saya bermula saat mengikuti SKPLA (Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama) Angkatan 1 yang di inisiasi oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) pada bulan November 2021 silam. Sebagai salah satu dari 30 partisipant seluruh Indonesia dalam kegiatan tersebut. Saya sangat bersyukur sekali, karena dapat berjumpa dengan pemuda-pemudi hebat penggiat keberagaman di tanah air. Walaupun kegiatan ini dilaksanakan secara Virtual Meeting, namun hal tersebut bukanlah kendala berarti. Rasa kebersamaan yang ada memupuk kecintaan diantara kami. Banyak sekali knowledge yang diriku dapati dari berbagai cerita dan pengalaman teman-teman luar biasa di forum ini. Alhasil dari seminggu pelaksanaan kegiatan ini, kami pun memiliki tugas masing- masing berupa RTL (Rencana Tindak Lanjut) di daerah sendiri, sebagai penghujung sekaligus perpisahan di ruang jumpa.
Pasca kegiatan SKPLA tersebut, diriku mengambil action untuk melakukan fact finding secara langsung di perkumpulan Jemaah Ahmadiyah, Kab.Sintang pada bulan Desember 2021. Di sini diriku membawa misi untuk research lebih dalam bagaimana kehidupan masyarakat Ahmadiyah di tengah penolakan masyarakat dan pemda setempat. Sontak saja saat first time diriku hadir disana, masyarakatnya sangat ramah sekali. Bahkan sisi moril dan kebajikan yang dilakukan oleh Jemaah Ahmadiyah ini sangat banyak sekali, itu diluar dugaan diriku dan menurut ku masyarakat yang berkomentar negatif mengenai Jemaah Ahmadiyah Sintang diluar sana harus mengetahui juga bagaimana sisi kebaikan dari perkumpulan jemaah tersebut. Point pentingnya yaitu saat diriku diberikan kesempatan untuk berdialog santai dengan ustadz/mubalig dari Jemaah Ahmadiyah ini. Beliau mengatakan “bahwa kami adalah umat Islam sama seperti kalian, ahli sunnah wal jama’ah pun kami ikuti, dan semua rukun agama Islam yang kami lakukan pun sama pada umumnya. Lantas dimata kalian yang seagama menganggap kami sesat hanya dengan berkeyakinan bahwa nabi terakhir setelah Nabi Muhammad Saw yaitu Mirza Ghulam Ahmad dan apakah dibenarkan jika rumah dan tempat ibadah kami kalian rusak. Lantas di manakah tempat untuk kami tinggali dan kepada siapakah kami harus mengadu sedangkan tidak ada pihak yang membela”. Mata ku hanya bisa berkaca- kaca dengan linangan air mata saat pemuka agama Ahmadiyah menyampaikan hal tersebut. Di dalam lubuk hatiku berbicara, tak ada yang dapat ku lakukan sama sekali terkecuali mendengarkan keluh kesah mereka. Fact finding ku selama 2 hari disana sangat berarti, banyak kisah cinta yang harus diseleraskan agar hak-hak mereka terjaga di negara ini. ~end~
Cerita keberagaman sangat berharga selanjutnya yang diriku dapati yaitu pada saat mengikuti kegiatan Workshop Training Advokasi Media Untuk Komunitas Rentan di Samarinda, Kaltim. Kegiatan ini baru saja terlaksana di bulan Juli 2022 yang lalu. Kegiatan ini diselenggarakan oleh SEJUK (Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman) bekerja sama dengan Internews dan USAID. Diriku sangat bahagia dan bersyukur sekali dapat hadir di panggung event ini karena sebagai salah satu peserta dari 2 orang utusan Kalbar di Samarinda, Kaltim ini. Aku hadir sebagai perwakilan SADAP Indonesia. Sebanyak 20 peserta dari berbagai kalangan kelompok rentan pun hadir di forum ini seperti Baha’i, Ahmadiyah, Rumah Berkesah, Waria Pontianak, Waria Samarinda, GKII, serta berbagai lainnya. Dari forum ini pula ku pergunakan untuk menggali lebih dalam bagaimana keadaan dari isu-isu diskriminasi dari kelompok marginal ini saat di masyarakat dan di media mainstream yang selalu menggunakan diksi hyperbole serta penyudutan kelompok minoritas tersebut. Hadirnya diriku disini bukanlah sebagai bagian dari kelompok minoritas tersebut, namun sebagai penggiat isu intoleran guna mendayagunakan media kami dalam advokasi kepada masyarakat dan publik bahwa kelompok marginal juga memiliki hak yang sama dan tidak ada bedanya dengan kita pada umumnya.
Hasil dari dialog di forum keberagaman selama 3 hari tersebut dapat disimpulkan bahwa celakanya, pemberitaan isu-isu keberagaman gender dan seksualitas di Kaltim banyak yang turut menebalkan stigma dan merendahkan martabat warga minoritas gender dan seksual. Begitu pun pemberitaan tentang pemerkosaan, tidak sedikit media yang menggunakan judul dan diksi-diksi bombastis, mengobyektivikasi korban, sehingga dapat memperdalam traumanya. Oleh karena itulah terhadap seluruh tantangan di atas, dengan hadirnya forum advokasi oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) bekerjasama dengan USAID dan Internews mengundang orang muda kalangan mahasiswa yang aktif di pers kampus dan media sosial untuk terlibat aktif dalam upaya memperbanyak ruang-ruang yang ramah keberagaman di media, termasuk berkontribusi dalam melawan hoax atau misinformasi dan disinformasi yang banyak menarget identitas kelompok marjinal. ~end~
# Giving Voice To The Voiceless
# Terima Aku Apa Adanya
# Salam Inklusi Satukan Keberagaman
Editor : Meraki Wacara Team


Komentar
Posting Komentar